Berjalan

Aku berhenti di tengah perjalanan ini, beristirahat dan menunggu waktu untuk berjalan lagi.

Akhirnya kursi taman di salah satu sudut di pinggir jalan itu kosong.

Syukurlah, aku bisa beristirahat sebentar setelah perjalanan panjang yang melelahkan tadi.

Keringat masih mengucur deras, botol minumku juga masih harus diisi kembali.

Telapak kakiku terasa panas, kubuka sepatu dan kaos kakiku.

Angin berhembus perlahan. Kunikmati terpaannya di wajah dan tubuhku.

Begitu tenang rasanya duduk bersandar di kursi ini pada saat seperti ini.

Biarkan kunikmati dulu, sampai aku sanggup melangkah dan berlari lagi.

Bukankah hidup tentang berjalan, berhenti dan kembali menyiapkan langkah di saat yang tepat?

Pintu misteri

Dalam perjalanan mengitari museum itu, aku memasuki sebuah pintu yang unik. Nampak dari luar, ukirannya begitu indah. Penampangnya cukup megah dan terkesan sangat kuat. Sekilas pintu itu sungguh berbeda dengan pintu-pintu ruangan lain dalam museum itu.

Kubuka pintu dan kutemui ruangan yang sangat gelap. Dalam ruangan tersebut terdapat empat pilar yang memancarkan cahaya, membuat lukisan di permukaannya nampak begitu jelas. Lukisan yang bercerita tentang kebebasan, kebahagiaan, ketenangan dan kisah cinta yang begitu indah itu sungguh memukau. Namun anehnya, tidak dapat kulihat permukaan dasar lantai yang menjadi alas pijakan tubuhku dan pilar-pilar tersebut. Dalam hati aku sungguh ingin mendekati pilar-pilar tersebut, menyentuhnya dan menikmati lukisan-lukisan indah tersebut dari dekat. Ada beberapa detail yang membuatku penasaran dan sungguh ingin kuamati dari dekat. Ada apa di permukaan lantai yang gelap dan belum dapat kulihat itu? Aku ingin melangkah, namun aku ragu. Apa kalian ingat film-film misteri tentang pencarian harta karun itu? Tak jarang sang aktor utama harus berjuang menghindari jebakan akibat salah menginjak permukaan lantai yang harus ia lewati. Aku sungguh harus berhati-hati kali ini. Pikirku, bila salah langkah, aku bahkan bisa mati.

Should i take any step forward?

Mencari

Bangun pagi, bekerja, pulang dan beristirahat.
Repeat.
Apa yang dicari?

Duduk santai, bercerita, mendengar, tertawa dan sesekali menangis.
Apa yang dicari?

Bercinta, berteriak, kelelahan, berbincang, berpelukan dan tertidur.
Apa yang dicari?

Kadang semua terus berjalan, menikmati setiap detiknya, menikmati senyum dan hingar bingar di sekitar kita, tanpa perlu menemukan yang apa yang dicari.

Bukankah semau sudah disediakan untuk kita? Nikmatilah.

Roller coaster

Awalnya aku ragu. Begitu banyak orang berteriak, bahkan tak jarang berakhir dengan wajah pucat pasi. Tapi, aku melihat banyak juga yang terlihat sumringah dan tersenyum puas.

Aku menunggu.

Hingga tiba giliranku menaikinya. Akankah aku berakhir dengan wajah pucat pasi, atau tersenyum puas dengan congkaknya? Perlahan kutapaki tangganya. Lalu aku duduk dengan manis sambil menunggu penumpang lainnya. Setelah semua siap, roller coasterku pun berangkat. Angin berhembus di wajahku dengan ringan. Saat ia menanjak, pemandangan indah menghibur mataku. Aku menikmati debaran jantung bercampur dengan ketegangan. Ia semakin naik, naik, naik hingga ke puncak. Aku tercekat. Roller coasterku perlahan bersiap untuk meluncur dan belokan tajam nampak jelas di depan mataku.

Bagaimana aku saat perjalanan ini berakhir nanti?

A letter to Dru on a rainy night

Dear Dru,

I love you, and you know that.

Ever since i was standing on that rooftop, watching those beautiful lights, learning and growing in love.

I probably find someone that moves me more than you, but no one can beat the way you make me feel. Talking to you lifts me up. All the words you say always make me feel like I couldn’t be anyone better. I can be who i really am, when I am with you.

You live there, and I live here, which is why it will never work.

I would have followed you, and you knew that. Now you are telling me what you want me to. I am scared.

I’m scared of how much I love you. I am scared that you aren’t the person I am in love with. I am scared you don’t love me as much as I love you. I am scared you are going to hurt me. Yes, I am so scared of what it means to be with you.

I wish i could go back to the time when i didnt know how warm you can be. I wish life wasn’t this complicated, then I wouldn’t be scared of those rainy days. I wish i wouldn’t feel how much you can move me.

I can see my whole life with you. Its beautiful like this rainy night.

Are you a fantasy? Ah, maybe that’s why I am so scared now.

Love,

Kim

Aku ingin kembali

Baiklah, ditemani secangkir seduhan bunga telang, aku tiba-tiba ingin menulis lagi.

Banyak orang berkata untuk tidak menyampaikan mimpimu sebelum menjadi kenyataan, supaya semesta tidak menertawakanmu ketika kamu jatuh kecewa ketika gagal. Banyak juga yang mengatakan ungkapkanlah segala impianmu, supaya semesta mendengar dan bergerak membantu mengantarkanmu pada mimpimu. Aku memilih berdiri di tengah. Ungkapkanlah mimpimu, supaya semesta mendengar dan membantumu, supaya kamu lebih teguh untuk mengejarnya terus, dan tidak akan ada  yang menertawakanmu nanti karena kegigihanmu akan terus terjaga.

Sudah begitu lama aku melenceng jauh dari path yang dulu kujalani. Aku sadar aku berubah. Tapi aku tidak pernah betul-betul ingin kembali. Aku menikmati being another version of myself. Ada api kecil yang sedari dulu selalu kujaga supaya tidak pernah membesar karena aku tau nyalanya begitu merusak dan berbahaya. Tiba-tiba cipratan bensin menyambarnya, entah dari mana asalnya. Blar! Hiduplah ia dengan liarnya membakar semua dedaunan kering yang bertumpuk dan berserakan.

Mendadak aku berubah. Aku jauh dari orang-orang, keluarga dan sahabat-sahabatku yang bahkan sejak dulu begitu tulus dan setia mendampingiku. Aku tidak menyadari adanya kasih dan perhatian besar dari orang-orang di sekitarku karena duniaku beralih pada pusat semesta yang lain. Titik absurd yang dimataku begitu menarik untuk dieksplor. Titik absurd yang setelah jauh kudalami nyatanya tidak bisa kutemukan intinya. Ia tidak nyata tapi begitu kuat menarikku masuk kedalamnya. Aku telah  membuang waktu untuk menikmati ketersesatanku ini.

Tapi semesta sungguh tepat waktu. Aku sudah terlalu jauh menyia-nyiakan banyak hal. Aku sudah terlalu jauh berubah menjadi diriku yang begitu lemah menjaga komitmen dengan orang-orang di sekitarku. Aku sudah terlalu lama menjadi tidak berarti dan jalanku tidak lagi berujung. Tapi Tuhan begitu baiknya, mengingatkanku dengan banyak teguran dan realita, supaya aku tidak terlalu jauh menjadi manusia yang tidak berarti.

Aku begitu sedih mengabaikan semua kebaikan di sekitarku selama ini. Mengesampingkan karunia besar yang selama ini justru kupandang sebelah mata.

Mimpiku sederhana. Aku ingin menjadi diriku yang dulu. Mimpi sederhana yang semoga bisa mengembalikanku pada mimpi-mimpi besarku. Meskipun berat, meskipun jiwaku perlu istirahat sebelum aku mengambil start untuk kembali, tapi aku pasti bisa.

Sabbe satta bhavantu sukhitatta.

Selesai.

pexels-photo-3022456Matanya memerah, menahan marah dan kesedihan yang akhirnya tumpah bersama dengan air matanya.

“Kenapa?”, katanya dengan suara serak.

Dhani hanya diam. Wajahnya datar, tanpa ada terpancar sedikitpun sedih atau kehilangan. Hal itu membuat hati Lita semakin sakit, menyadari begitu mudahnya dua tahun perjalanan mereka bisa Dhani lupakan begitu saja.

“Pulanglah”, kata Dhani.

Tanpa berkata-kata lagi Lita lari menuju kosnya. Hati dan harga dirinya begitu hancur. Ia tak peduli air mata yang terus mengalir sepanjang jalan, membuat semua mata di sepanjang gang tertuju padanya. Ia hanya ingin segera sampai ke kamar kosnya, mengunci pintu dan membenamkan diri dalam kesedihannya.

Berhari-hari Lita mengurung diri dalam kamar. Ia begitu enggan bertemu dengan orang lain. Teman satu kosnya yang sepertinya paham, pun tidak mengganggunya. Hanya sesekali berteriak saat satu per satu berpamitan keluar kosan. Dan setelah mengetahui kosan sudah sepi, Lita baru memesan makanan melalui aplikasi. Itupun sehari hanya sekali, supaya lambung tidak berteriak kehilangan bahan untuk diolah. Rasa lapar dan haus sedang kehilangan kekuatan untuk menggodanya untuk makan dan minum teratur. Berhari-hari pikirannya dipenuhi dengan pertanyaan tentang kenapa Dhani begitu tega memutuskan hubungan, tanpa menjelaskan apapun. Dalam hati Lita berharap ini cuma sekedar prank, atau Dhani sedang menyiapkan suatu kejutan untuknya. Namun semua pupus oleh kenyataan bahwa Dhani tidak pernah membalas lagi pesan yang ia kirimkan.

Terdorong rasa rindu, sesak dan penasaran, Lita mencoba keluar. Ia berjalan menuju taman di sebelah kosan Dhani. Ia rindu bangku taman dan sorot lampu di sampingnya, tempat ia biasa menikmati sore Bersama Dhani sambil sekedar minum kopi hasil takeaway sepulang kuliah atau menikmati gorengan bala-bala dan sepiring siomay babang langganan yang biasa mangkal di sekitaran taman. Ia memberanikan diri menelepon Dhani, berbekal spekulasi akan rasa bosan Dhani mengabaikannya selama seminggu kemarin. Percobaan pertama, panggilan tidak dijawab. “Ah, mungkin Dhani sedang ke toilet”, pikirnya. Keraguan percobaan kedua akhirnya terjawab dengan sapaan di ujung sana.

“Hallo..” jawab Dhani.

“kamu dimana?” Lita bertanya lirih.

“Di kamar aja”, nada suara di speaker ponselnya terdengar begitu datar.

“Dhan, aku di taman sebelah. Kamu kesini ya, aku tunggu”.

Tidak ada jawaban dari Dhani, dan sambungan telepon tiba-tiba terputus.

Satu jam Lita menunggu, Dhani tak kunjung datang. Satu jam berikutnya ia habiskan dengan mengubah posisi duduknya supaya bisa memandang balkon kamar kos pria yang sampai seminggu kemarin telah dua tahun menjadi kekasihnya. Tidak juga ia melihat apapun disana. Tiga jam adalah puncak kesabaran Lita petang itu. Ia akhirnya memilih pulang kembali menuju kosnya. Wajahnya begitu sedih, tersentak oleh kenyataan bahwa tidak ada lagi harapan untuk jiwanya yang meronta. Hatinya begitu kehilangan, menyadari tidak ada lagi sedikitpun yang tersisa untuknya. Semua mendadak sirna tanpa sedikitpun rasa adil yang ia bisa rasakan.

Dalam perjalanan kembali ke kos, Lita mampir di sebuah warung makan. Warung mie instan ini dulu merupakan langganan mereka berdua. Lita diam saja, enggan menanggapi lebih jauh saat mamang penjual menanyakan dimana Dhani. Ia hanya memesan satu porsi mie instan goreng dan segelas teh manis panas seperti biasanya. Patah hati membuatnya mendadak mudah terbawa suasana. Melihat satu pasangan makan bersama, hatinya perih. Mendengar ada yang memesan soda gembira kesukaan Dhani, ia kembali membayangkan Dhani. Cepat-cepat ia habiskan pesanannya setelah tersaji dan kemudian bergegas pulang kembali ke kosannya.

Selesai membayar, Lita berpapasan dengan Bang Adhit. Dia nampaknya telah mengetahui kabar tentang Lita dan Dhani. Setelah ia berpamitan, Bang Adhit menahannya dan berkata, “Aku tidak ingin berkomentar, tapi melihatmu aku tidak sanggup diam saja. Jangan bodoh dalam mencintai orang lain, sampai kamu lupa mencintai dirimu sendiri”.

Lita tidak menjawabnya. Ia pulang dengan langkah yang gontai. Ia nampaknya makin menyadari bahwa manusia tidak bisa memilih kenyataan yang harus dihadapi, pahit atau manis. Ia tetap harus terus berjalan, meskipun awalnya begitu berat. Mencintai diri sendiri? Ia sendiri belum mempu memahami kenapa mencintai bisa sesakit ini.

Menulis itu gampang-gampang susah

Aku tidak pandai menulis. Tulisanku juga tidak terlalu bagus. Tapi bagiku, dahulu menulis itu memuaskan. Ada sensasi tersendiri ketika aku membaca ulang tulisanku. Tapi sekarang instagram tampaknya lebih populer untuk mencurahkan isi hati, mengeluarkan apa yang ada di pikiran, atau hanya sekedar mencari pelampiasan mood swings yang tak kunjung sembuh. Aku ingin mulai menulis lagi. Saat ini rasanya buntu. Mungkin karena aku sudah jarang sekali menulis bebas. Baiklah, akan kubiasakan lagi untuk menulis. Ternyata, menulis itu gampang-gampang susah meskipun hanya sekedar tulisan selevel diary anak SMP ini.

 

See you

Harumkan Nama Bangsa, Asian Games 2018 buktikan #PajakKitaUntukKita

Pesta Olah Raga Asia 2018 (18th Asian Games) yang diselenggarakan dari tanggal 18 Agustus 2018 hingga 2 September 2018 di dua kota yang berbeda, Jakarta dan Palembang, telah berhasil mengukir prestasi bangsa Indonesia di kancah Asia. Tidak hanya Asia, penyelenggaraan Asian Games 2018 yang dinilai banyak pihak berlangsung dengan baik sejak awal persiapan hingga closing ceremony yang dilaksanakan pada tanggal 2 September 2018  bahkan telah membawa nama harum bangsa Indonesia di mata dunia. Hal ini terbukti dengan banyaknya media asing yang berasal dari beberapa Negara di luar di benua Asia yang memuat artikel mengenai keberhasilan Indonesia dalam penyelenggaraan Asian Games ke 18 ini. Sebuah koran harian di Amerika Serikat, The New York Times bahkan menceritakan keberhasilan Indonesia pada penyelenggaraan Asian Games 2018 dalam sebuah artikel yang diterbitkan pada tanggal 2 September 2018 berjudul “Asian Games Close : Indonesia Shows It’s the “Energy of Asia’”. Diserahkannya obor Asian Games kepada Indonesia di Incheon (Korea Selatan) pada bulan September tahun 2014 lalu, ditutup secara apik dan penuh kebanggaan dengan penyerahan obor Asian Games kepada China sebagai tuan rumah penyelenggaraan Asian Games selanjutnya.

ASIAN GAMES
Gambar diambil dari http://www.asiangames2018.id

Asian Games 2018 yang bertajuk “Energy of Asia” ini terselenggara berkat kerja sama dan dukungan berbagai macam pihak yang terlibat. Persiapan telah dilaksanakan sejak awal tahun 2015 untuk memastikan Indonesia mampu menyediakan seluruh sarana dan prasarana yang dibutuhkan dalam menggelar pesta yang akan dinikmati oleh berjuta pasang mata di dunia. Sarana yang dipersiapkan secara maksimal tidak hanya  mencakup sarana yang berhubungan dengan penyelenggaraan acara serta masing-masing kegiatan olahraga yang dikompetisikan, namun juga sarana pendukung yang bisa memudahkan berbagai pihak termasuk masyarakat lokal serta wisatawan asing yang ingin menikmatinya, seperti infrastruktur jalan termasuk Lintas Rel Terpadu / Light Rail Transit (LRT). Semua dapat terselenggaran dengan baik berkat sinergi dari Indonesia Asian Games 2018 Organizing Committee (INASGOC) bersama Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Kemenpora), pemerintah Kota Jakarta dan Palembang serta 15.000 anggota masyarakat umum yang menjadi sukarelawan.

Seluruh persiapan, pembukaan, penyelenggaraan hingga penuntasan penyelenggaraan pesta olah raga terbesar di Asia ini menelan biaya yang tidak sedikit. Berdasarkan penjelasan dari Menteri Keuangan Republik Indonesia, Sri Mulyani, pada laman Facebooknya, total dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2015-2018 yang dikeluarkan untuk penyelenggaraan pesta olah raga ini senilai 24 triliun rupiah. Dana tersebut digunakan untuk membiayai seluruh persiapan, pembukaan, penyelenggaraan hingga penuntasan penyelenggaraan Asian Games 2018 senilai 8,2 triliun rupiah, serta penyiapan/pembinaan atlet dalam periode 2015-2018 (termasuk di dalamnya bonus bagi atlet, pelatih dan official team) senilai 2,1 triliun rupiah. Selain penyelenggaraan Asian Games 2018 dan pembinaan atlet, dana senilai 13,7 triliun rupiah digunakan untuk membiayai investasi di sektor konstruksi untuk kota Jakarta dan Palembang yang kini masih bisa digunakan oleh masyarakat meskipun Asian Games 2018 telah usai. Selain APBN, INASGOC sebagai Badan Layanan Umum (BLU) di bawah Kemenpora ini juga berhasil menghimpun dana yang tidak sedikit dari para sponsor yang turut berperan serta.

Berhasilnya penyelenggaraan perta olah raga yang diadakan oleh negara tuan rumah yang berbeda setiap kurun waktu empat tahun ini merupakan wujud sinergi yang baik dari seluruh bangsa Indonesia. Pihak yang terlibat langsung, mulai dari persiapan, penyelenggaraan hingga penutupan bekerja demi keberhasilan Indonesia sebagai tuan rumah. Masyarakat pun bahu-membahu menciptakan suasana yang aman dan kondusif serta memberikan dukungan pada para atlet yang berjuang. Dana APBN yang digunakan sebagai sumber biaya terbesar juga merupakan hasil dari pajak yang dibayarkan oleh masyarakat secara sukarela. Penyelenggaraan Asian Games 2018 juga mendatangkan banyak keuntungan baik di sektor ekonomi, salah satunya dengan makin maraknya industri terkait (lampu, merchandise, pakaian, soundsystem) maupun pariwisata. Keuntungan lain juga dirasakan dalam bentuk makin berkibarnya national branding Indonesia di kancah internasional melalui kehadiran para pendukung atlet dari negara lain dan media asing untuk meliput. National branding ini meliputi makin dikenalnya kepribadian bangsa, visi dan misi bangsa, keunggulan dan sektor ekonomi yang berkembang di negara kita, pesona dari sektor wisata dan kekayaan alam yang beraneka ragam, budaya yang beraneka ragam, jenis bidang kuliner yang bervariasi, serta keramahan penduduk Indonesia yang mungkin sukar ditemukan di tempat lain. Ditambah lagi dengan keberhasilan Indonesia meraih 31 medali emas dengan total 98 medali, maka kita semakin bertambahlah alasan kita untuk makin berbangga hati sebagai bagian dari bangsa Indonesia.

Kita patut berbangga karena sinergi yang baik ini berakhir dengan kebanggaan yang luar biasa sebagai bangsa Indonesia. Dengan penyelenggaraan yang melibatkan berbagai elemen bangsa, dan dilaksanakan dengan dukungan dana dari masyarakat sendiri, serta manfaat dan kebanggaan luar biasa yang dirasakan oleh bangsa Indonesia, maka Asian Games 2018 sebagai salah satu torehan sejarah bangsa yang membanggakan ini merupakan bukti nyata dari #PajakKitaUntukKita.