Play the hand you’re dealt, mind your own business

Beberapa hari yang lalu sempat berbincang-bincang dengan adik kelas yang sudah lama tidak bertemu dan kebetulan dia sedang ada tugas di Jogja. Kami berbicara tentang banyak hal, tentang masa lalu kami di kampus, tentang cerita kehidupan masing-masing sampai saat ini, hingga sharing masalah pekerjaan di kantor masing-masing. Sampai halnya dia mengeluh tentang pembagian load pekerjaan yang tidak sebanding antara dia dan rekan kerjanya yang notabene memiliki penghasilan yang relatif sama. Wkwk, masalah klasik kaum remaja yang masih baru masuk ke dunia kerja. Saya mau share pendapat saya pribadi aja sih, yang kebetulan kemarin saya sampaikan padanya. Terlepas ini applicable dan ideal atau tidaknya menurut teori yang ada, ini murni pendapat saya pribadi dan cara saya untuk tetap bisa menikmati semua apa yang harus saya kerjakan dengan hati yang senang dan riang.

WhatsApp Image 2018-09-05 at 2.07.06 PM

Pertama, kita harus tau bahwa adil bukan berarti sama rata. Kita harus paham juga bahwa kemampuan tiap orang itu beda-beda. Ada yang punya kemampuan 6, 7, 8, 9, bahkan 4. Kecepatan orang dalam melakukan sesuatu itu juga berbeda. Ada yang sanggup makan satu mangkok Mie Ayam Tumini sampai habis dalam waktu 5 (lima) menit. Ada yang makan harus dipisah-pisah dulu baru dimakan satu per satu bagian. Ada yang harus dipisah, lalu dicampur sedikit demi sedikit, dan kalau komposisi sudah pas baru bisa dimakan. Begitu pun dalam urusan pekerjaan. Ada yang pandai menulis dengan cepat dengan kemampuan tata bahasa yang baik, ada yang bisa menghitung dengan cepat, ada yang kemampuan analisisnya luar biasa, ada yang pandai dan cepat dalam banyak hal, ada juga yang lemah dan lambat dalam banyak hal. Teori tentang manajemen sumber daya manusia mungkin sudah memberi panduan dalam membagi dan menempatkan masing-masing individu pada bagian atau divisi pekerjaan yang tepat. Masing-masing divisi ada yang memerlukan individu yang cepat dan kuat dalam hal analisa dan karena tidak semua pegawai seperti itu, maka mungkin saja mereka ditempatkan bersama dengan rekan yang ritme kerjanya lebih lambat tapi (mungkin saja) memiliki kemampuan lebih di bidang / jenis pekerjaan yang lain. Tapi percayalah, kita tidak akan pernah bisa menghadapi segala sesuatu yang ideal. Karena sekeras apapun kita mencoba dan berusaha, kita sendiri pun belum tentu ideal buat orang lain.

Nah, di dunia kerja, terkadang (seringnya sih pasti) kita tidak bisa memilih dengan siapa kita bekerja. Komunikasi itu penting. Kalau kita keberatan, komunikasikan dengan rekan kita tentang apa yang membuat kita keberatan. Tapi kadang ada barriers, entah itu penolakan dari rekan kita untuk berkomunikasi atau bisa jadi kita sendiri udah malas buat membicarakan hal yang kita sendiri tidak yakin bisa untuk diubah. Yang perlu diingat, siapkan diri dan sadarkan diri bahwa kita sendiri juga pasti punya kekurangan, dan harus terima dan mau berubah juga kalau kita dapat keluhan yang sama dari rekan kita. Hahaha. Kalau rekan kita menunjukkan tanggapan yang positif dan kemauan serta komitmen untuk berubah, itu sangat bagus. Kalau tidak, saya punya tips buat menenangkan diri sendiri dan mempertahankan semangat juang yang (semoga) selalu tetap tinggi.

Cobalah berpikir tentang hal-hal positif yang selama ini mungkin belum kita sadari. Seperti, bila kita diberi pekerjaan yang jauh lebih banyak, bukankah itu artinya atasan mempercayai kita lebih mampu dari pada yang lain? Hal itu akan merembet ke kepercayaan bahwa semakin banyak yang kita kerjakan, kita akan diberi lebih banyak kesempatan untuk melakukan dan mencoba merancang inovasi untuk melakukan hal yang dapat mempercepat pekerjaan, yang mana artinya kita terdorong untuk lebih kreatif. Dan lebih dari itu, dengan makin banyak pekerjaan maka coba banggakan lah diri sendiri dalam pikiran kita, dengan meyakini bahwa sebenarnya kita memiliki kemampuan yang lebih dari pada orang lain. Menurut saya itu juga cara saya untuk lebih bisa belajar bersyukur dan tidak membuat sia-sia karunia dalam bentuk segala kemampuan dari Tuhan sih. Lalu, kalau kita bisa melakukan lebih banyak hal, maka eksistensi kita bakalan lebih bermanfaat. Mending mana, ada manusianya tapi kontribusi cuma seiprit atau jadi orang yang kalau kita gak ada bisa bikin goyang satu divisi atau bagian? Bukankah kita kerja supaya kita bermanfaat buat banyak pihak? Monggoh tinggal pilih yang mana aja sih.

Berikutnya saya mau share soal rejeki di mindset saya. Saya sih mikir memang rejeki udah ada yang atur, Tuhan Yang Maha Kuasa atas segalanya. Tapi prinsip saya kalau kita cari rejeki dengan cara yang benar dan bertanggungjawab, maka rejeki kita juga akan dicukupkan. Rejeki gak cuma dalan bentuk uang lho ya. Kesehatan, anak-anak yang  baik, happy, sehat dan pengertian, orang tua yang selalu sehat, suami yang pengertian, tetangga yang baik, kemudahan dalam banyak urusan, ketenangan dalam bekerja, punya support system yang bagus, itu juga rejeki yang tidak ternilai. Tidak usah mikirin apalagi iri sama rejeki atau rekening orang lain. Bagaimana masing-masing orang mempertanggungjawabkannya, itu urusan mereka dan Tuhan pasti handle dengan sangat baik. Dia cerita tentang teman seruangannya yang kerjaan gitu-gitu aja (I actually don’t know what she means with gitu-gitu aja lol), yang getol dan ‘kikrik’ banget memperjuangkan uang lembur dan dinas padahal do’i lemburpun gak ngapa-ngapain dan gak kasih kontribusi yang berarti, dinas luar kota juga sekalian nengokin pacarnya. Saya sih ketawa aja dengernya. Dalam hati saya mikir juga kalau ternyata adik kelas saya ini rese juga sama hidup dan duit orang lain, lol. Saya sendiri sih meskipun orangnya gak pedulian sama omongan orang, tapi kalau tau ada orang segitunya ngamatin kerjaan dan urusan dinas saya ya kesel juga, haha.

Nih ya, menurut saya kita gak punya hak buat tahu atau komentar tentang berapa yang orang lain dapet, dan gimana cara mereka mempertanggungjawabkannya. Kita juga gak tau kan, apa cara kita mempertanggungjawabkan apa yang kita dapet itu sudah benar atau belum? Ada orang yang dilebihkan dalam urusan finansial tapi (amit2) rumah tangga dan anak-anaknya ada aja masalahnya. Ada yang diberi rejeki finansial cukup, tapi di rumah bahagia dan anak-anak sehat lucu-lucu. Ada juga yang pas-pasan dalam hal keuangan (bahkan mungkin kurang) tapi keluarga puji Tuhan sehat dan anak-anak diberi kemudahan dan prestasi luar biasa dalam pendidikan dan perjalanan mengejar masa depannya. Intinya sih tergantung manusianya aja. Sirik itu sifat manusia, tapi please jangan kotori pikiran yang udah banyak nodanya dan buang energi untuk itu. Hal seperti itu cuma bisa mengurangi optimalitas kita dalam menikmati hidup dan bahagia. Saya sendiri mikir nanti malam mau masak apa dan besok harus kasih education games apa buat anak-anak aja udah penuh pikirannya, ngapain mikirin yang gak penting. Focus on your own life, just mind your own business, please. Ada kalanya kalau kita dengar curhatan hal pribadi teman-teman yang dari luar kelihatan apa-apanya enak kita juga bisa mbatin kasihan loh. It’s true.

So, buat yang merasa lelah dan ada ketidakadilan yang merajalela atas pekerjaan di kantor atau dimanapun, please gosah lebay dan meraung-raung. Sejauh tidak melenceng dari tugas dan kewajiban kita, dan sejauh kita sanggup (apalagi masih punya waktu untuk sejenak berleha-leha), kalau saya sih why not?? Believe it or not, banyak nganggur seriously lebih melelahkan hati daripada banyak kerjaan di kantor. Roda itu kan berputar. Lebih baik membiasakan diri untuk hal yang berat, karena nanti kalau kita dapat kemudahan, semua itu berasa luar biasa nikmat. Tapi kalau kita terbiasa dengan kemudahan, dari mana kita bisa tahu dan siap menghadapi tantangan yang lebih berat. Dan satu lagi, ketika sudah memilih dan berkomitmen untuk bekerja, just play the hand you’re dealt.

Thank you for visiting my blog.

Iklan

One thought on “Play the hand you’re dealt, mind your own business

  1. Play the Hand You’re Dealt, Mind Your Own Business – Birokreasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s